Oleh: Nurul Faizin & Khairul Atqiya

Behaviorisme

Behaviorisme mucul pada awal abad 20 di Amerika sebagai cabang dari psikologi. Disiplin baru ini ditemukan oleh seorang psikologis John Broadus Watson. Dia berusaha menemukan hubungan hukum tentang kaitan antara stimulus (rangsangan) dan perilaku (behavior).[1] Behaviorisme juga didefinisikan sebagai pendekatan eksperimental yang ketat dalam psikologi. Fakus kajian dalam behaviorisme adalah prilaku manusia. Menurut aliran ini, manusia bertindak berdasarkan pengaruh lingkungan fisik alih-alih dorongan insting dan kecenderungan bawaan. Selain itu, aliran ini menguji dan memanipulasi perilaku manusia sebagai fenomena fisiologis yang terukur.[2]

Behaviorisme adalah sekumpulan ide tentang sains analisis perilaku (science of behavior analysis), behaviorisme sebenarnya bukanlah sains, melainkan filsafat sains. Sebagai filsafat tentang perilaku, ia membahas topik-topik yang dekat dan berarti bagi kita, yaitu tentang mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan, dan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kita lakukan. Dalam hal ini, bagi para penganut paham ini, behaviorisme adalah cabang dari filsafat sains.[3] Terdapat dua aliran behaviorisme yang muncul sepanjang sejarahnya. Kedua aliran tersebut adalah behaviorisme awal atau tradisional dan behaviorisme radikal.[4]

Behaviorisme memiliki akar dari dua worldview berbeda. Behaviorisme tradisional memiliki akar dari worldview realisme, sedangkan behaviorisme radikal menggunakan dasar worldview pragmatisme. Perbedaan utama antara realisme dan pragmatisme dalam behaviorisme tradisional dan radikal adalah bahwa realisme berusaha melihat dunia dan alam semesta di sekeliling kita secara objektif dan apa adanya. Sedangkan pragmatisme tidak hanya melihat dunia dan alam semesta secara objektif, akan tetapi lebih menitik beratkan pada apa yang bisa kita perbuat terhadap dunia dan alam semesta itu.[5] Letak perbedaanya adalah pada sikap kedu alairan ini terhadap realitas.

Meskipun disebutkan bahwa John B. Watson adalah ilmuwan pertama yang memperkenalkan behaviorisme, akan tetapi akar filosofis dari behaviorisme –khususnya behaviorisme tradisional, dapat ditemukan pada filsuf-filsuf dan para ahli filsafat sains terdahulu, seperti Aristoteles, Sir Francis Bacon, David Hume, Auguste Comte, John Stuart Mill, Ernst Mach, dan Bertrand Russell, khususnya dari aliran/mazhab empirisisme.[6]

Kritik Terhadap Behaviorisme

Sebagai cabang dari filsafat sains, maka perlu diperhatikan dahulu bagaimana para behavioris mendefinisikan sains dan tujuannya. Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara aliran-aliran behaviorisme sendiri, khususnya dalam tingkatan worldview. Aliran-aliran yang berseberangan ini adalah behaviorisme awal atau tradisional dan behaviorisme radikal, di mana behaviorisme tradisional mengambil worldview realisme, sedangkan behaviorisme radikal menggunakan dasar worldview pragmatisme. Perbedaan utama antara realisme dan pragmatisme dalam behaviorisme tradisional dan radikal adalah bahwa realisme berusaha melihat dunia dan alam semesta di sekeliling kita secara objektif dan apa adanya. Sedangkan pragmatisme tidak hanya melihat dunia dan alam semesta secara objektif, akan tetapi lebih menitik beratkan pada apa yang bisa kita perbuat terhadap dunia dan alam semesta itu.[7]

Selain dilihat dari sudut pandang filsafat sains, dilihat dari objeknya, behaviorisme memisahkan antara pikiran (jiwa) dan raga, yang dalam pandangan filosofis sering dikategorikan sebagai dualisme. Semua mazhab psikologi yang ada menggunakan filosofi dualisme kecuali behaviorisme. Hal ini karena menurut para tokoh behavioris tradisional, pikiran (jiwa) seseorang termasuk sesuatu yang non-material –bahkan metafisik, yang tidak dapat dinyatakan dengan jelas (intangible) dan tidak dapat diteliti dengan menggunakan pendekatan ilmiah (unapproachable),[8] sehingga dalam behaviorisme, perilaku yang diteliti hanyalah bagaimana seseorang berperilaku berdasarkan stimulus yang diberikan, tanpa memperhitungkan pengaruh pikiran (jiwa)-nya.

Meskipun demikian, sebenarnya behavioris radikal memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat behavioris tradisional. Bagi behavioris radikal, sebagaimana pendapat B. F. Skinner dan Ernst Mach, karena yang tampak adalah perilaku seseorang terhadap suatu kejadian (event) yang riil, maka dengan hanya menganalisa unsur fisikal yang eksternal –interaksi organisme dengan lingkungannya, kita dapat mengetahui juga faktor internal organisme itu yang terjadi di dalam raga –yang mereka sebut sebagai sensasi.[9]

Hal ini berbeda dengan pandangan Islam, di mana psikologi Islam memandang aspek spiritual manusia –termasuk di dalamnya jiwa dan ruh, merupakan bagian dari objek analisa terhadap perilakunya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian ahli psikologi modern, seperti Carl Gustav Jung dalam penelitiannya –psychology of spirit, bahwa semua pengalaman akan menjadi bagian dari jiwa (psyche) dan membentuk ilmu pengetahuan yang terkondisi atau dapat dikondisikan seperti halnya raga dan perilakunya, dan oleh karena itu jiwa adalah sesuatu yang benar-benar nyata, dan bahkan dapat menjadi objek utama dalam analisa psikologi.[10]

Dalam hal ini, tampaklah bahwa sebagai cabang dari psikologi, behaviorisme tidak memasukkan unsur utama dari psikologi, yaitu psyche (jiwa), bahkan cenderung menafikannya dalam menganalisa perilaku manusia. Meskipun para behavioris radikal yang lebih modern (baca: muncul belakangan) tetap memasukkan unsur yang ada dalam fikiran (sensasi), tapi mereka tidak memfokuskan analisa terhadapnya melainkan hanya pada faktor eksternalnya saja untuk mengetahui psyche (jiwa)-nya. Bahkan, dari sisi filosofis, sudah banyak kritik yang diarahkan kepada behaviorisme dan para behavioris. Seperti Bertrand Russell misalnya, yang menyebut para behavioris yang lebih cenderung memilih monisme dibandingkan dualisme fikiran (jiwa) dan raga –seperti Ernst Mach dan William James–  sebagai orang yang takut terhadap jiwa, yang terpengaruh oleh gejala “fear of mental”.[11]

Terdapat perdebatan antara behaviorisme dan agama, sebagaimana terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama –di Barat. Sebagai contoh, telah diperdebatkan bahwa perilaku manusia tidak sah menurut hukum –dalam arti tidak dapat dihukumi– menurut ilmu pengetahuan, dan oleh karena itu bukan subjek yang pantas untuk ilmu pengetahuan. Dalam psikologi, filosofi behaviorisme tampaknya paling bertentangan dengan pemikiran religius dalam worldview Yahudi-Kristen. Behaviorisme sering dipandang seakan menyingkirkan manusia dari tempat khusus mereka di alam semesta, menyangkal kebebasan berkehendak (free will) dan tanggung jawab moral, dan menolak gagasan tentang campur tangan Tuhan. Meski demikian, masalah penerimaan masyarakat terhadap agama Yahudi-Kristen dipandang oleh beberapa behavioris sebagai kebutuhan untuk menegaskan argumen mereka yang mendukung sains. Behavioris mungkin lebih efektif dalam berkomunikasi kepada masyarakat pada umumnya.[12]

DAFTAR PUSTAKA

Ansari, Zafar Afaq (Ed.). Qur’anic Concepts of Human Psyche. Islamabad: International Institute of Islamic Thought, 1992.

Baum, William M. Understanding Behaviorism: Behavior, Culture, and Evolution. 2nd Ed. Malden, USA: Blackwell Publishing, 2005.

Carrara, Kester. Radical Behaviorism and Cultural Analysis. Cham: Springer International Publishing AG, 2018.

DeWitt, Richard. Worldview: An Introduction to the History and Philosophy of Science. 2nd Ed. West Sussex: John Wiley & Sons, Ltd., 2010.

Goldwag, Arthur. Isms and Ologies: All the Movements, Ideologies and Doctrines that Have Shaped Our World. New York: Vintage Books, 2007.

Hatfield, Gary. “Sense data and the philosophy of mind: Russell, James, and Mach.” Principia: an international journal of epistemology 6, No.2, (Januari 2002): 203-230,  doi:https://doi.org/10.5007/%x.

Lattal, Kennon A. dan Philip N. Chase (Ed.), Behavior Theory and Philosophy. New York: Springer Science+Business Media, 2003.

Powers, William T. Behavior: The Control of Perception. Illinois: Aldine Publishing Company, 1973.

Sire, James W. Naming the Elephant: Worldview As A Concept. Illinois: InterVarsity Press, 2004.

Watson, John B. Behaviorism. 7th Printing. New Jersey: Transaction Publishers, 2009.

[1] William T. Powers, Behavior: The Control of Perception (Illinois: Aldine Publishing Company, 1973), 1.

[2] Arthur Goldwag, Isms and Ologies: All the Movements, Ideologies and Doctrines that Have Shaped Our World (New York: Vintage Books, 2007), 147.

[3] William M. Baum, Understanding Behaviorism: Behavior, Culture, and Evolution, 2nd Edition, (Malden, USA: Blackwell Publishing, 2005), 3.

[4] William M. Baum, Understanding Behaviorism: Behavior, Culture, and Evolution, 20.

[5] William M. Baum, Understanding Behaviorism, 20-21, 23.

[6]J. Moore, “Explanation and Description in Traditional Behaviorism, Cognitive Phycology, and Behavior Anaysis,” Kennon A. Lattal dan Philip N. Chase (Ed.), Behavior Theory and Philosophy (New York: Springer Science+Business Media, 2003), 13-21.

[7] William M. Baum, Understanding Behaviorism, 2005), 20-21, 23.

[8] John B. Watson, Behaviorism, 7th Printing, (New Jersey: Transaction Publishers, 2009), 4-6.

[9] Sensasi di sini adalah persepsi seseorang yang tercipta sebagai hasil pengalaman dari event yang dialami. Kester Carrara, Radical Behaviorism and Cultural Analysis (Cham: Springer International Publishing AG, 2018), 47-48.

[10] Absar Ahmad, “Qur’anic Concepts of Human Psyche,” Zafar Afaq Ansari (Ed), Qur’anic Concepts of Human Psyche (Islamabad: International Institute of Islamic Thought, 1992), 19-20.

[11] Gary Hatfield, “Sense data and the philosophy of mind: Russell, James, and Mach.” Principia: an international journal of epistemology 6, No.2, (Januari 2002): 203-230,  doi:https://doi.org/10.5007/%x.

[12] Chad M. Galuska, “Advancing Behaviorism in a Judeo-Christian Culture,” Kennon A. Lattal dan Philip N. Chase (Eds.), Behavior Theory and Philosophy, 260.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *