Berguru dari pengalaman, sama artinya dengan belajar memakai kehidupan, yaitu menggali hikmah dari kejadian atau peristiwa yang pernah kita alami. Apapun yang dikerjakan hari ini akan menjadi pengalaman di kemudian hari. apapun yang dikerjakan hari ini akan menjadi guru yang paling berharga di hari nanti.

Kejadian atau peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan merupakan suatu akibat dari apa yang telah dilakukan pada masa lampau. Bila seseorang melakukan seseuatu dengan cara yang salah, ia akan menuai hasil yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai harapan. Begitupun sebaliknya, bila ia melakukan sesuatu dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh insya Allah dia pun akan mendapatkan hasil yang menyenangkan.

Kejadian tidak menyenangkan akan menjadi bekal seseorang agar lebih berhati-hati dalam tindakan, bertutur kata, memilih dan merencanakan. Sebelum melangkah, semua harus dipertimbangkan matang-matang secara cermat dan teliti.

Rasulullah SAW mengingatkan, ‘’ tidak boleh seorang mukmin tersengat binatang berbisa dari lubang yang sama dua kali. ‘’ HR- Bukhari dan Muslim.

Namun, realita yang ada, ternyata banyak manusia yang lebih parah. Mereka jatuh berkali-kali pada lubang yang sama. Bukan hanya satu kali. Bahkan, banyak orang yang mengaku tidak pernah jatuh. Sebab, merasa sudah pintar. Padahal, dia tidak jatuh karena memang sudah berada di dalam lubang. Sehingga, tidak mungkin jatuh lagi. Kecuali, bila di dalam lubang itu ada lubang lain.

Mengapa demikian ? Pertama, dia tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya tipe manusia seperti ini tidak mau belajar. Dia lebih fokus menyalahkan orang lain atau keadaan. Dan mencari akar permasalahan yang ada pada dirinya.

Kedua, dia tidak tahu kesalahan yang dilakukan. Biasanya kejadian seperti ini karena minimnya wawasan pengetahuan, dia mengira sedang melakukan perbaikan. Kenyataannya dia justru sedang melakukan perusakan.

Ketiga, dia sudah tahu kesalahannya, tetapi tidak mau melakukan perubahan. Bisa jadi karena malas atau gengsi dengan berbagai faktor. Agar muslim tidak terjerumuskan ke lubang yang sama, dia perlu berguru dan belajar dari pengalaman. Agar lebih matang dalam berpikir dewasa berfikir, bersikap dan bijaksana serta dapat mengambil keputusan.

Setiap manusia dikaruniai akal yang dapat digunakan untuk menghindari bahaya dan meraih manfaat dalam kehidupannya. Barang kali suatu saat karena kurang waspada seseorang dapat tertimpa kejadian yang tidak mengenakkan dalam kehidupannya. Sehingga berusaha tidak terperosok kepada kasus yang sama. Seorang mukmin karena kebersihan hatinya, terkadang mudah percaya kepada orang lain. Apalagi bila orang tersebut berjanji-janji manis di muka. Karena terlalu husnuzan yang besar, ia pun terpesona dengan orang tersebut.

Kesalahan manusiawi seperti ini bisa ditoleransi, Namun tentunya, dia harus belajar dari kejadian buruk yang menimpanya. Agar tidak terjatuh kepada kesalahan yang sama di kemudian hari. Wallahu’alam.[sintya kartika]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *