Dia mungkin teringat, namun tak jarang terabaikan. Katanya kalau ikut da kita dapat pahala, tapi kalau di tinggalkan tidak ada masalah. Tapi tahukan anda? Sebenarnya kalau di tinggalkan kita rugi. Mau tau kenapa? Ayo kita cek.

Tentang Tawaran yang lebih baik dari dunia yang sering di abaikan sebagian orang. Hadist Aisyah ra, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat fajar, lebih baik dari dunia dan seisinya.” Dalam shahih Muslim dari Aisyah ra. Juga, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda tentang dua raka’at ketika terbit fajar, “Sungguh dua rakaat itu lebih aku sukai dari dunia seluruhnya. Berarti kalau hari ini kita ketinggalan Qalbiyah Subuh itu artinya kita telah kehilangan peluang mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada dunia, bahkan dunia pun bisa jadi tidak dapat.

Saat sesorang tidur, ruhnya sedang diambil oleh Allah dan kemungkinan hanya ada 2, di kembalikan atau tidak. Ada tawaran dari Sunnah agar ruh kita diambil dalam keadaan bersih. Apa itu ? Berwudhu, taubat, dan Memaafkan. Kalau ternyata malam itu kita meninggal dunia, Ruh Qalbu kita sudah bersih karena kita sudah memaafkan orang lain. Menghalalkan dan mengikhlaskan dunia akhirat menjadikan batin kita bersih. Sedang wudhu menjadikan lahir batin kita bersih. Jadi kita tidur dalam keadaan bersih lahir dan batin.

Seringnya kita lupa untuk mengkibaskan kain di atas tempat tidur saat hendak tidur dan tidak dalam posisi menghadap kanan. Hal ini sering terjadi karena banyaknya faktor seperti ketiduran tanpa menggunakan kasur dan lain sebagainya. Dari Abi Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Jika salah seorang dari kalian hendak berbaring di peraduannya, maka hendaklah ia menggunakan ujung kainnya lalu kibaskanlah tempat tidur dengannya. Kemudian membaca nama Allah, karena sebenarnya ia tidak tahu ada apa dibaliknya. Jika ia hendak berbaring, maka berbaringlah di atas sisi kanan badannya dan ucapkan, ‘Maha suci Engkau wahai Rabbku’, dengan nama-Mu aku letakkan punggungku dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya (bangun). Jika Engkau menahan nyawaku, maka ampunilah ia dan jika engkau biarkan (Engkau hidupkan aku) maka periharalah ia dengan sesuatu yang dengannya Engkau memelihara hamba-hambaMu yang shalih.” (HR.Muslim)

Bersin dan menguap menutup dengan sesuatu (tangan). Hadist Abu Hurairah ra dari Nabi Saw, “Sesungguhnya Allah suka dengan bersin dan tidak suka dengan menguap. Jika seseorang bersin dan memuji Allah, maka ha katas setiap muslim yang mendengarnya dan menjawabnya (dengan yarkamukallah). Adapun menguap, ia dari setan. Maka hendaknya menahannya dengan kemampuannya. Jika ia mengucapkan ‘Haa’ maka setan akan tertawa.

Bersegeralah untuk tidur di malam hari dan tidak bergadang, Rasulullah Saw disebutkan dalam riwayat bahwa diwaktu malam beliau selalu tidur lebih awal dan bangun lebih awal. Setelah beliau menunaikan shalat Isya, beliau kembali ke rumah lalu mengobrol sebentar dengan istrinya mengenai hal-hal penting lalu beristirahat. Kecuali jika memang ada permasalahan darurat yang harus diselesaikan dengan para sahabat. Yang demikian ini agar waktu tidak terbuang sia-sia dan aktifitas istirahatpun lebih stabil serta metabolism tubuh juga tidak terganggu. Itulah mengapa dikatakan jangan bergadang kalau tidak ada artinya, bergadang boleh saja kalaua da perlunya.

Membaca dzikir masuk dan keluar WC. Amalan ini memang terlihat mudah dalam pengalaman tapi tidak sedikit diantara kita yang menganggap remeh kemudian mengabaikan. Disebutkan di dalam hadits Nabi SAW, dari Anar ra, “Jika Rasulullah Saw hendak masuk ke WC, beliau mengucapkan:

اللهم إني أعوذبك من الخبث و الخبائث

Saat keluar dari WC pun beliau mengajarkan agar kita berdoa, Hadits dalam musnad Ahmad, Sunan Abu Daud, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani, dari Aisyah ra. Berkata: “Biasanya Nabi jika kelaur WC mengucapkan,

غفرنك

Jika, kalau kita meninggalkan doa ini, kita sudah memberi peluang pada setan untuk menemani kesendirian kita di dalam WC.

Sunnah memakai dan melepas Sandal. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda, “Jika salah seseorang diantara kalian memakai sandal, hendaknya ia memulai dengan yang kanan, dan jika ia hendak melepasnya, ia memulainya dengan yang kiri. Hendaknya bagian kanan yang pertama kali di pakai dan bagian yang kiri yang pertama kali dilepas.”

_Sintya Kartika Prameswari_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *