Al-Ghazali termasuk ke dalam sufistik yang banyak menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan, tidak mengherankan jika ia mendapat gelar Imam al-Murabin.  Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali lahir di Ghazaleh propinsi Tus wliayah Khurasan pada tahun 450 H yang bertepatan dengan 1059 M. dan wafat di Tabristan wilayah Tus pada tahun 505 H yang bertepatan pada 1111 M.

Al-Ghzali memulai pendidikannya di tempat kelahirannya, lalu melanjutkannya ke Nisyafur dan Khurasan yang say itu terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan terpenting di dunia Islam. Di sana Al-Ghazali berguru kepada Imam al-Haramain Abi al-Ma’ali al- Juwainy seorang guru besar dan ulama bermadzhab Syafi’i. Di kota tersebut ia mempelajari Teologi, Hukum Islam, Filsafat, Logika, Sifisme dan Ilmu-ilmu alam yang mempengaruhi sikap dan pandangan ilmiahnya dikemudian hari.

fj9yxYp4

Bagi Al-Ghazali pendidikan sangatlah berperan dalam menentukan corak kehidupan suatu bangsa. Menurut H. M. Arifin seorang guru besar dalam bidang pendidikan, Dalam masalah pendidikan Al-Ghazali empirisme, hal ini disebabkan karena ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik, sepertihalnya seorang anak yang tergantung kepada orang tua dan orang yang mendidiknya. Al-Ghazali mengatakan jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka anak itu menjadi baik, sebaliknya jika anak itu dibiasakan melakukan perbuatan buruk, maka anak itu akan berakhlak jelek. Hal ini sejalan dengan sabada Rasulullah Saw “Setiap anak yang dilahirkan, dalam keadaan bersih, kedua orangtualah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi, Nasrani atau Majusi” (H.R. Muslim)

Dalam hal tujuan pendidikan Al-Ghazali memberikan rumusan yang mencerminkan sikapnya yang zuhud. Ia menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang, jika tujuan pendidikan diarahkan bukan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt hal itu akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Al-Ghazali memandang dunia ini bukanlah hal yang pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutusakan kenikmatan setiap saat. Lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga derajatnya lebih tinggi di sisi Allah Swt dan lebih luas kebahagiaanya di akhirat. Rumusan ini dipahami Al-Ghazali berdasarkan pada isyarat Al-Qur’an:

Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku (Q.S. al-Dzariyat: 59)

Sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu dari pada kehidupan dunia (Q.S. al-Dhuha, 93:4)

imam-ghazali

Sikap zuhud Al-Ghazali juga terasa ketika ia menjelaskan tipe ideal sorang guru atau pendidik. H. M. Arifin dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam menjelaskan tentang ciri-ciri pendidik yang boleh melaksanakan pendidikan menurut Al-Ghazali. Ciri-ciri tersebut adalah:

  1. Guru mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya.
  2. Guru mengingatkan muridnya bahwa tujuan menuntut ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt bukan untuk kebanggan diri atau keuntungan pribadi.
  3. Guru mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
  4. Guru menjadi contoh yang baik bagi muridnya, seperti berjiwa halus, lapang dada, murah hati dan berakhlak terpuji lainnya.
  5. Guru mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan intelektual dan daya tangkap anak didiknya.
  6. Guru memahami minat, bakat, dan jiwa anak didiknya. Sehingga terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya.
  7. Guru mampu menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didik.
  8. Guru mengamalkan yang diajarkannya, karena ia menjadi idola di mata anak didiknya.
  9. Guru tidak mengharap materi (upah) sebagai tujuan utama dari ia mengajar. Upahnya adalah anak didik yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya.

Selain menjelaskan beberapa ciri-ciri guru, Al-Ghazali juga menjelaskan ciri-ciri seorang murid sebagai pesan dan nasehat bagi para penuntut ilmu. Bagi murid dikehendaki hal-hal sebagai berikut:

  1. Memuliakan guru dan bersikap rendah hati dan tidak takabur.
  2. Merasa satu bangunan dengan murid yang lainnya sehingga merupakan satu kesatuan yang saling menyayangi, saling menolong serta berkasih sayang.
  3. Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai madzhab yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran.
  4. Mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu yang bermanfaat saja, melainkan berbagai ilmu dan bersungguh-sungguh sehingga mencapai tujuan dari tiap ilmu tersebut.

Dalam hal kurikulum, Al-Ghazali membagi ilmu dari segi kepentingannya menjadi dua kelompok. Pertama, ilmu (fardhu) hukum mempelajarinya wajib, yaitu ilmu agama. Kedua, ilmu yang hukum mempelajarinya (fardhu kifayah) yaitu ilmu yang digunakan untuk memudahkan urusan duniawi, seperti ilmu hitung, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan industri.

Sejalan dengan hal itu Al-Ghazali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah. Diantaranya adalah ilmu Al-Qur’an dan ilmu agama seperti fiqih, hadits dan tafsir. Ilmu bahasa, nahwu, makhraj serta lafdz-lafdznya. Ilmu-ilmu fardhu kifayah seperti ilmu kedokteran, matematika, teknologi dan politik. Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Al-Ghazali adalah seorang ulama besar yang manaruh perhatian yang cukup tinggi terhadap pendidikan, konsep pendidikan yang dikemukakan nampak sistematik dan komprehensif serta secara konsisten sejalan dengan sikap dan kepribadiannya sebagai seorang sufi.  (Saiful A)

2 thoughts on “Kriteria Guru dan Murid Ideal: Pemikiran Pendidikan Imam Al-Ghazali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *