Tujuan pendidikan singkatnya ada dua. Pertama, berkiblat atas individu. Kedua, berorientasi pada masyarakat. Apa selanjutnya?

Individu terfokus pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar. Sementara, dari individual ada dua aliran. Pertama, mempersiapkan murid agar bahagia dengan prestasi di masyarakat dan ekonomi, bahkan lebih baik dari orangtua mereka. Kedua, meningkatkan intelektual, kekayaan, dan keseimbangan jiwa penuntut ilmu.

Cita-cita dan tujuan pendidikan adalah keberhasilan individu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sementara, keberhasilan atau mobilisasi sosial-ekonomi bagi setiap murid sebagai asa dari institusi Barat.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas (guru Wan Moh Nor Wan Daud) menjelaskan bahwa dalam Islam tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang baik atau manusia paripurna. Hal ini beliau ajukan kepada Ghazali Syafie (mantan Menteri Dalam Negeri Malaysia) pada September 1970.  Manusia yang baik adalah pekerja dan warga negara yang baik.

Dengan penekanan terhadap individu, sekularisme, ideologi sekuler, pendidikan sekuler, dan sebagainya tidak akan bisa memasuki negara Islam. Maka, penekanan terhadap individu adalah strategi yang tepat pada zaman ini.

Al-Attas menerangkan bahwa orang terpelajar adalah orang baik. Apa makna “baik”? Kata Al-Attas: “Orang baik adalah orang menyadari tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang Maha Esa secara kaffah, yang memahami dan mengamalkan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya, yang terus menerus meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai contoh ideal bagi orang yang beradab. Kebanyakan sarjana Muslim menyebutnya: “Manusia Sempurna atau Manusia Universal”. Nama ini tercantum di tengah-tengah logo institusi pendidikan Al-Attas, bernama ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), Kuala Lumpur. Pada Konferensi Dunia 1 (Makkah, April 1971) terkait Pendidikan Islam, ada usulan, agar definisi pendidikan dalam Islam menjadi ta’dib dengan alasan penggunaan istilah ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib selalu tidak jelas dan tepat. Pada Konferensi Dunia 2 (Islamabad, 1980) masih mengenai Pendidikan Islam, Al-Attas mengatakan, “Struktur konsep ta’dib sudah mencakup unsur-unsur ilmu, instruksi, dan pembinaan yang baik sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah tarbiyah, ta’lim, ta’dib.

Salah satu alasan beliau mengapa menolak istilah tarbiyah karena menyinggung aspek fisikal dalam mengembangkan tanam-tanaman dan terbatas pada aspek fisikal dan emosional dalam pertumbuhan dan perkembangan binatang dan manusia. Sekalipun, Nabi Muhammad SAW pernah memakai kata-kata ta’dib untuk menunjukkan suatu usaha dalam menjinakkan hewan dengan cara melaparkannya agar mengikuti perintah dari tuannya. Tapi dipakai dalam bentuk metaforis.

Pengertian adab yang perlu kita ketahui dari Al-Attas adalah tindakan untuk mendisiplinkan jiwa dan pikiran, pencarian kualitas dan sifat-sifat jiwa dan pikiran yang baik, perilaku yang benar, dan sebagainya.

Hal lain yang perlu kita tinjau dan koreksi secara efektif adalah ketiadaan adab. Sehingga, ummat Islam zaman ini tidak mengalami kebingungan, tidak keliru dalam bidang keilmuan, tidak mendapat pemimpin paslu dalam segala bidang dan seterusnya.

Sebagai akibat dari ketiadaan adab adalah kezaliman, kebodohan, bahkan kegilaan secara alami. Kezaliman adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Menurut Al-Ghazali kebodohan adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan, kegilaan adalah perjuangan berdasarkan tujuan dan maksud yang salah.

Ternyata, penanaman adab (ta’dib) yang dipahami dan dijelaskan Al-Attas, berupaya untuk menghasilkan Muslim yang terdidik secara benar, jelas identitasnya, jujur, moderat, berani, dan adil dalam menjaslankan kewajibannya dalam pelbagai realitas dan masalah kehidupan sesuai dengan urusan prioritas yang dipahaminya.

Jadi, ayo bangkit dan amalkan adab dalam diri, keluarga, lingkungan, dan masyarakat dunia.

*Ditulis oleh: Alfi Huda, mahasiswa Aqidah Filsafat Islam Siman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *