Oleh: Sintya Kartika Prameswari

Marhaban Ya Ramadhan

Salam Pendidikan, Salam Edukasi

Apa kabar sahabat Edukasi? berlibur tidak hanya mengisi waktu luang akan tetapi lebih menghargai waktu yang tersedia. Liburan kali ini merupakan liburan yang bersejarah walaupun kondisi yang kurang mendukung dengan Covid-19 di tengah-tengah bulan suci Ramadhan. Tetapi jangan tergoyahkan dengan kondisi saat ini, walaupun harus tetap Stay At Home tidak menjadi penghalang bagi kita untuk menjadi pribadi yang produktif.

Inisiatif untuk tetap produktif menjadi peluang besar bagi Mahasiswi HMP PAI UNIDA Gontor putri untuk mengadakan acara seminar online berbasis kependidikan. Berbagai pelaksanaan mulai dengan kerja sama tim hingga acara berakhir dengan lancar. Acara seminar online perdana ini menjadi tolak ukur Mahasiswi HMP PAI dalam mengembangkan produktifitas sehari-hari, walaupun melewati internet tetapi tidak menjadikan suatu alasan serta halangan untuk tetap berperan aktif dalam kegiatan tersebut.

Seminar online kependidikan ini bertemakan “Pembentukan Emosional Peserta Didik Dalam Mewujudkan Anak Bangsa Intelektual Di Indonesia 5.0”. Bertempat di Grup WhatsApp, pada hari Jum’at, 1 Mei 2020, pukul 13.30 WIB s/d selesai. Yang di selenggarakan oleh Himpunan Mahasiswi Pendidikan Agama Islam, Universitas Darussalam Gontor, Mantingan.

Tujuan dari pada Seminar Pendidikan ini ialah untuk mendapatkan pengetahuan yang luas mengenai kemajuan Indonesia dalam meningkatkan produktifitas generasi yang lebih baik dalam menghadapi peradaban teknologi Socity 5.0. Seminar ini terdaftar hanya untuk Akhwat dari berbagai daerah di Indonesia, sebagaimana peserta pada seminar online tersebut berjumlah 250 (Dua Ratus Lima Puluh) peserta.

Selain itu, seminar yang dibawakan oleh moderator bersama Afifah Nur Jamilatul Akhlak (Mahasiswi PAI/5) bersambung dengan nara sumber yang begitu luar biasa beliau adalah Al-Ustadz Zulfahmi Syukri Zarkasy, M.Pd.

“Tak kenal maka tak sayang” pepatah yang sering diucapkan ketika perkenalan berlangsung. Beliau adalah

Nama               : Zulfahmi Syukri Zarkasyi, M.Pd

Asal                 : Ponorogo

Pendidikan      : S1 (UMK Kediri, Psikologi), S2 (UIN Malang, Manajemen Pendidikan), S3 (UIN    Malang, Manajemen Pendidikan)

Pengalaman     : Jamborre Swedia dan Alumni Indonesia Mengajar di pedalaman Papua

Meningkatkan Kecerdasan Emosional dalam era modern atau pada era teknologi saat ini dapat dilihat dari bermacam-macam persoalan permasalahan anak. Beberapa pengaruh atau unsur yang terjadi pada zaman sekarang yang paling utama adalah Teknologi. Sekarang Teknologi menjadi penguasa di dunia, tanpa teknologi orang di anggap tidak memiliki apa-apa. Persoalan anak tersebut menjadi titik utama orang tua dalam mendidik.

Persoalan kedua yaitu Pergaulan. Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia di sebut makhluk sosial yang berarti hidup berkelompok. Tetapi kita wajib mengetahui bahwasanya pergaulan saat ini tidak menjadikan penghalang dalam perkembangan anak. Pada kecerdasasn emosional anak pergaulan sangat di butuhkan pada proses tersebut.

Ada 3 unsur dalam pembantuan proses tumbuh kembangnya kecerdasan emosinal anak diantaranya, Orang tua (Al-Ummu Madhrasatul Uula) , Lingkungan, dan sekolah. Lingkup keluarga adalah sekolah pertama bagi seorang anak, kemudian Masyarakat sebagai peran kedua setelah keluarga. Begitu juga sekolah adalah peran ketiga setelah Masyarakat dan Sekolah.

“Bagaimana orang tua mendidik dan mendisiplinkan anak untuk menjadikan anak yang di harapkan orang tuanya ?” Jelas Ustadz Zulfahmi, dalam penjelasannya.

Anak cerdas, Pintar dan Disiplin itu berpengaruh pada peran kedua orang tuanya sebagai pendidik pertama kali pada keluarga. Jangan salahkan sekolah, lingkungan hingga masyarakat apabila anak tersebut tidak sesuai dengan apa yang di harapkan oleh orang tuanya. Pada lingkup pendidikan lembaga masyarakat ataupun lembaga pendidikan (sekolah/pesantren) merupakan sarana tambahan bagi kecerdasan emosional pada anak.

Kecerdasan emosinal bagi beberapa tokoh adalah kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain. Kemampuan dalam memotivasi diri sendiri dan kemampuan dalam mengelola emosi dengan baik. Pada diri sendiri dalam hubungan ornag lain, kecerdasan emosi mencangkup kemampuan yang berbeda, tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik. Kecerdasan emosi harus sangat bersinergi. Kecerdasan emosional itu dalam diri sendiri serta meunculnya dari suatu dorongan.

Klasifikasi Kecerdasan Emosional :

  1. Mengenali Emosi
  2. Mengelola Emosi
  3. Meningkatkan Motivasi diri sendiri
  4. Mengenali Emosi orang lain
  5. Mengelola atau Membina hubungan antara ornag lain

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional:

  1. Fisik
  2. Lingkungan Sosial
  3. Kesehatan
  4. Keluarga

Dari sinilah kita dapat meningkatkan kecerdasan emosional dari diri sendiri kemudian kita bisa mengajarkan motivasi kepada anak didik kita. Adapun penerapan dalam perkembangan kecerdasan emosional pada anak yaitu, mengembangkan Empati atau kepedulian anak, mempraktekkan perbuatan-perbuatan yang baik, melibatkan anak dalam kegiatan masyarakat, mengajarkan Integritas atau kejujuran pada anak.

Pada penghujung acara Moderator mengarahkan pada peserta untuk mengajukan 3 pertanyaan utama dan 2 pertanyaan tambahan. kemudian berlanjut hingga penutup. Closing Statement “Jadilah Sarjana-Sarjana yang berguna bagi semua lini kehidupan masayrakat, didiklah anakmu sebaik mungkin karena, merekalah asset masa depanmu di dunia dan di akherat kelak” –Al-Ustadz Zulfahmi Syukri Zarkasyi, M.Pd-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *