Kaligrafi merupakan salah satu warisan seni dalam Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi tsaqafah dan hadharah. Kemajuan ini dapat dilihat dari model kaligrafi yang telah mengalami proses perubahan dari sejak awal munculnya hingga sekarang.

Salah satu pengaruh kaligrafi dalam kemajuan peradaban Islam dibuktikan dengan banyaknya bangunan arsitektur Islam yang dihiasi dengan kaligrafi indah dan banyaknya literature keilmuan Islam yang ditulis oleh para ulama terdahulu.

Selain itu, ketika Islam datang dengan gerakannya dalam tulis menulis (khat), para sahabat mulai menulis mushafnya masing-masing (sebelum adanya jam’ul Qur’an oleh Utsman bin Affan), sebagian menuliskan hadits yang mereka dapatkan dari Rasulullah dalam setiap majlis. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat pesat ketika itu, mengingat masyarakat Arab pada masa pra Islam masih awam terhadap dunia tulis menulis

Seni adalah produk aktivitas yang dilakukan secara sadar, bertujuan untuk mendapatkan atau mencapai estetika, dan sekaligus berfungsi sebagai salah satu jalan atau cara untuk menerjemahkan simbol-simbol. Kualitas simbol-simbol dan estetika tersebut dipengaruhi oleh sublimasi antara harmoni, kontras, frekuensi, ritme serta intensitas dalam proses kelahiran seni. Karena itu, seni seringkali berkonotasi estetika atau keindahan. (Husain Karim, 2003).

Dimana dewasa ini keunggulan dinamika perkembangan kaligrafi dengan pertumbuhan yang heroik melebihi mazhab-mazhab tulisan di dunia. Pertumbuhan kaligrafi yang pesat dan penerimaannya yang final dari kaum muslimin tidak lepas dari pengaruh Al-Qur’an yang sejak diturunkannya berbicara tentang perintah membaca dan menulis (QS Al-‘Alaq/96: 1-5) dan ayat-ayat lain tentang tulisan dengan perangkat-perangkatnya yang jadi motivator penggerak pertumbuhannya yang pesat.

Gambaran yang jelas tentang lambatnya pertumbuhan kaligrafi Arab sebelum di turunkannya Al-Qur’an, masyarakat Arab sebelum islam di kenal nomaden yang tidak memungkinkan hidup tumbuh dan berkembang bersama perkembangan kegiatan baca tulis.

Umumnya mereka mengenal tulisan dan bacaan hanya beberapa saat menjelang kedatangan islam. Kebudayaan Islam, seperti dikatakan Ismail al Faruqi memandang keindahan sebagai nilai tempat bergantungnya seluruh validitas Islam, yang terpancar melalui nilai-nilai keindahan absolut al Quran.

“Al Quran Maha Mulia, tidak ada yang melebihi otoritas al Quran selain Allah sebagai pemberi sumber-Nya”. Al Faruqi selanjutnya mengisyaratkan, estetika dalam Islam adalah sublimasi bukti keilahian, yaitu i’jaz (kualitas) al Quran tidak dapat ditiru atau ditandingi, baik dalam hal sastra, komposisi, irama, keindahan, balaghah, kesempurnaan gaya serta kekuatan dalam menampilkan makna. Dalam konsep Islam, Allah adalah pusat dari nilai-nilai estetika ini.

Timbulnya tulisan arab kini menjadi salah satu huruf atau tulisan sebagai salah satu alat untuk menyatakan apa yang ada di dalam pikiran manusia. Ketika orang belum lagi mengenal alat-alat komunikasi modern seperti radio, marconi, telefon dan sebagainya, huruf adalah alat penghubung dan pengantar yang penting dalam hidup kemasyarakatan dan pengetahuan.

Fase pertama dari silsilah khat Arab ialah khat Mesir kuno, kemudian terpecah ke khat Finiqi, menjadi al Rami dan Musnad dengan macam-macamnya seperti al Shafawi, al Tsamudi dan al Lihyani di utara jazirah Arab dan al Himyari di selatan Jazirah Arabia.

Terdapat perbedaan pendapat para rawi Arab dan peneliti dari bangsa asing tentang silsilah khat ini. Peneliti bangsa asing berpendapat bahwa dari al khat al Arami timbul al khat al Nabathi dan al Suryani. Pada awal abad ketujuh Masehi, terjadi sedikit perkembangan penulisan di kalangan masyarakat Jazirah Arabia.

Tulisan sederhana (belum sempurna) telah ada, seperti dibuktikan oleh temuan arkeologis (prasasti pada batu, pilar, dan seterusnya) di jazirah. Selain itu, sisa-sisa paleografis (tulisan pada material seperti papyrus dan kertas kulit) tertentu membuktikan bahwa orang Arab zaman itu mempunyai pengetahuan tentang seni tulis.

Berdasarkan pengamatan arkeolog Hasan Muarif Ambary, terdapat kecenderungan yang cukup menarik terkait dengan penggunaan jenis khat sebagai simbolosasi yang digunakan dalam pelbagai media. Jika di indonesia intensitas gaya di gunakan menunjukkan seni islami modern.

Maka, di Indonesia yang sering di gunakan khat dengan gaya Naskh dan Tsuluts. Fenomena pesantren di indonesia juga melahirkan kaligrafer yang mengkhususkan diri pada penulisan mushaf, buku agama dan menguasai ragam gaya khat modern seperti Kufi, Tsulust, Naskh, Faris, Ri’ah, Diwani dan Diwani Jali.

Demikianlah tradisi menulis kaligrafi Arab sebagai Identitas Islam Nusantara yang berkembang dalam kehidupan di lingkup masyarakat, diantara faktor-faktor itu adalah karena besarnya minat, perhatian, dukungan yang diberikan para kaligrafer untuk mengembangkan seni kaligrafi.

Adanya kegiatan tradisi intelektual yang dilakukan melalui kegiatan pendidikan melalui pengajian yang berkelanjutan, mulai dari baca dan tulis Al-Qur’an. Pelajaran kaligrafi yang diberikan dengan pengiringan pelajaran agama. Maka dari itu, kaligrafi salah satu kesenian islami yang mendapat perhatian besar dari kalangan ummat islam mempunyai peran yang besar dalam perkembangan peradaban islam di dunia.

Oleh: Sintya Kartika

Karya Khat: Ustadz Nur Hamidiah Nask

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *