Anak Jalanan Berikan banyak pelajaran: Indahnya berbagi Ilmu bersama Penduduk Rumah Pintar Bangjo Semarang

Semarang_26 Juli 2022. Outingclass adalah kegiatan perdana yang diadakan dan dilaksanakan oleh Mahasiswi akhir Program studi Pendidikan Agama Islam tahun ini. Outingclass merupakan kegiatan kemasyarakatan yang di selenggarakan dengan tujuan memberi pengalaman lebih kepada Mahasiswi dalam bermasyarakat, mengamalkan ilmunya, belajar mengajar dan mengenal dunia luar lebih dalam lagi. Kegiatan Outingclass perdana kali ini diadakan di Rumah Pintar bangjo Jln. Jonegaran no.309 Kota Semarang.

Rumah Pintar Bangjo atau yang biasa di sebut dengan RUMPIN bangjo adalah sebuah komunitas yang memiliki ketertarikan mengenai anak jalanan dengan mengedepankan pendidikan. Ketertarikan komunitas rumpin bangjo dilandasi dengan pandangan mereka yang menilai semua anak memiliki hak yang sama dalam hidup, pendidikan, layanan kesehatan dan sebagainya. Sehingga komunitas ini bertekad untuk memberikan hak-hak anak jalanan yang semestinya mereka dapatkan.

Anak jalanan yang berada di bawah naungan komunitas rumpin bangjo memiliki latar belakang permasalahan yang berbeda-beda seperti pencurian, pengamen jalanan, putus sekolah, penyalah gunaan narkoba hingga pelaku seks bebas. Semua itu dilandasi dengan keterbatasan anak jalanan dan ketidakpedulian orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu komunitas Rumpin bangjo bertekad untuk peduli dan memberikan hak yang semestinya.

Begitu juga dengan kehadiran kami ingin berbagi ilmu dan memberikan energi positif kepada anak jalanan yang berada di Rumpin bangjo. Seperti pesan dari musyrif Outingclass Al-Ustadz Dr. Nurul Salis Alamin M.Pdi, “Apalah arti ILMU jika tidak di AMALKAN, karena ilmu tidak akan ada nilai nya jikalau tidak diamalkan” nasihat baik ini beliau sampaikan pada saat pembukaan acara Outingclass guna memberikan gambaran atas tujuan pembelajaran kami.

Gambar. 1. Terlihat Mahasiswi PAI sedang mengajar anak-anak

Mengajar untuk profesi alumni Tarbiyah mungkin menjadi hal yang biasa, karena tujuan dari Tarbiyah sendiri adalah mencetak pendidik-pendidik yang unggul. Namun mengajar menjadi tak biasa dan menjadi tantangan besar ketika peserta didik memiliki latar belakang yang luar biasa, seperti adik-adik di Rumpin Bangjo Semarang ini. Rasa kahwatir dan takut telah menyelimuti kami semenjak hari keberangkatan, takut tidak dapat membaur, takut materi yang dipersiapkan tidak bisa dipahami, takut salah bertindak, takut salah berucap, takut kedatangan kami tidak diharapkan, takut wujud kami tidak berkenan di hati mereka.

Tetapi senyum, imut dan wajah polos terlihat sangat rupawan, sapaan hangat yang mereka tebarkan pertama kali berhasil menghilangkan semua ketakutan dan kekhawatiran yang tengah menyelimuti kami. Hingga proses belajar mengajar pun akhirnya dapat berjalan dengan lancar, kesemangatan dan ketertarikan adik-adik dalam mendengarkan materi serta mengikuti perlombaan-perlombaan yang kami adakan cukup membuat suasana perpisahan menjadi haru seakan kami adalah teman dekat yang akan berpisah terasa begitu berat dan pilu.

Hingga satu dari adik-adik penduduk rumpin berbisik “kak kapan-kapan kita belajar lagi yuk”, kalimat itu diutarakan oleh Fakhri anak berusia 13 tahun namun masih menduduki bangku sekolah dasar karena pertumbuhannya yang kurang sesuai dengan anak seusianya, perkataan nya membuat kami tersentuh, karna bakan materi yang kami berikan mungkin tidak ada nilainya apa-apa tetapi bisa membuat kesan dalam dirinya. Sebuah pelajaran besar untuk kami calon pendidik bahwa ruh pendidik memang lebih penting dari pada diri pendidik itu sendiri.

Banyak pelajaran kehidupan tersirat yang kami dapatkan dalam acara Outingclass kali ini, mengharukan dan menggembirakan. Terimakasih kepada para Asatidz dan Ustadzah Program Studi Pendidikan Agama Islam yang telah membimbing kami dan memberikan kami kesempatan untuk belajar bermasyarakat dalam acara Outingclass tahun ini.

Pen. (Biddami Fatkhi/Mahasiswi Semester 7)

Edit. Staff Fak. Tarbiyah

Leave a Reply