Titisan Petuah Sang Guru : Urgensi Pembelajaran Adab Sebelum Ilmu ( Kerangka Pendidikan Ala Gontor)

Pendidikan Agama Islam > Berita > Artikel > Titisan Petuah Sang Guru : Urgensi Pembelajaran Adab Sebelum Ilmu ( Kerangka Pendidikan Ala Gontor)

“Kalau ada pertanyaan, Pondok Pesantren mengajarkan apa? Maka jawabannya adalah pondok Pesantren mendidik kehidupan. Mengapa Pondok Pesantren tidak diatur oleh Amerika atau pemerintah? Karena Pondok Pesantren sudah memiliki Shibgah dan pola.”

-KH. Hasan Abdullah Sahal-

 

Seorang tokoh Intelektual Islam Syed Naquib al-Attas menjelaskan bahwa pentingnya kehidupan manusia secara global yaitu masalah utama manusia zaman sekarang adalah “Loss Adab” kehilangan adab, adab dengan Tuhannya, adab dengan sesama manusia dan adab terhadap diri mereka sendiri. Tokoh intelektual Islam Syed Naquib al-Attas telah memberikan kontribusinya dalam pemikiran dan pendidikan kehidupan manusia, khususnya mengenai permasalahan utama pada manusia di zaman sekarang.

Niat mempunyai peran penting dalam setiap perbuatan. Jika niat baik, akan terlaksana dengan baik begitupun sebaliknya. “Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung oleh niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang (akan mendapatkan) apa-apa yang dia niatkan”. Ketika menjadi santri baru, awal langkah pertama akan menemukan kata-kata singkat dan penuh makna luar biasa yaitu “Ke Gontor Apa Yang Kau Cari?” sebuah filosofi niatan hati untuk menuntut ilmu (tholabul ‘ilmi).

Belajar adalah kewajiban hidup, yang tidak mau belajar tidak akan mampu berkompetisi dalam kehidupannya. Menuntut ilmu adalah kegiatan yang snagat mulia, agar berhasil dan tidak sia-sia membuang umur dan biaya, maka harus disertai dengan adab dan akhlak yang mulia pula. Krisis akhlak menjadi salah satu permasalahan dalam pendidikan, karena untuk apa ilmu dan prestasi tinggi tanpa disertai akhlak dalam diri seseorang.

Sejarah Berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG)

Trimurti dalam perjalanannya mengembangkan Pondok Modern Darussalam Gontor mengkaji dari beberapa lembaga-lembaga pendidikan yang terkenal dan maju di luar negeri. Kini mampu menjadikan Gontor sebuah pesantren yang berkualitas dan bermutu tinggi. Awal perpeloncoan trimurti kepada orientasi pondok pesantren sangatlah kuat, beliau berani dalam mengambil resiko demi terwujudnya cita-cita mulia serta harapan tinggi. Beliau percaya bahwa hanya untuk mencari dan menggapai keridhaan Allah SWT, semua akan berjalan lancar. Lalu, keyaninan itulah yang membawa Gontor sampai pada titik kemulian pendidikan saat ini.

Menelusuri jejak trimurti, berdirilah pondok pesantren pada abad 15-18 Masehi, dengan kemandirian mampu memberikan perubahan peradaban Nusantara pentingnya agama dan pendidikan. Perjalanan Pondok Modern Darussalaam Gontor bermula pada cikal bakal didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu pada sebuah pondok kecil di daerah Ponorogo tepat pada desa Gontor. Gontor adalah sebuah tempat yang terkenal lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km kea rah tenggara dari kota Ponorogo. Bekal 40 santri, generasi pertama Pondok dipimpin oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin lalu Pondok Gontor lama terus berkembang pesat khususnya ketika dipimpin oleh Kyai Anom Besari generasi kedua. Ketika beliau wafat Pondok diteruskan oleh generasi ketiga dengan pimpinan Kyai Santoso Anom Besari.  Setelah perjalan panjang, tibalah masa bagi generasi keempat. Tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menuntut ilmu ke berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, seusainya beliau kembali ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Gontor. Generasi keempat yaitu, KH. Ahmad Sahal (1901-1977), KH. Zainuddin Fanani (1908-1967), KH. Imam Zarkasyi (1910-1985).

Masa kepemimpinan Trimurti, pondok berkembang pesat hingga membentuk jenjang pendidikan dimulai dengan nama Tarbiyatul Athfal. 12 Rabiul Awwal 1345, ketika itu memperingati Maulid Nabi. Pada 19 Desember 1836 bertepatan dengan 5 syawal 1355, didirikanlah Kulliyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyah. Program yang berjenjang pada pendidikan selama 6 tahun setingkat SMA. Setelah usai kepemimpinan pada generasi Trimurti, patah tumbuh hilang berganti pengkaderisasian menjadikan Pondok tetap utuh dan hidup.

Kaderisasi menjadi program prioritas bukan hanya untuk melanjutkan yang sudah ada, tetapi untuk meneruskan perjalanan meraih cita-cita, Gontor diproyeksikan bukan untuk puluhan tahun ke depan, melainkan untuk hitungan abad dan ribuan tahun keabadian. Kemudian Pondok Modern Darussalam Gontor dipimpin oleh KH. Dr. Abdullah Syukri Zarasyi, KH. Hasan Abdullah Sahal, dan KH. Syamsul Hadi Abdan sampai tahun 2019. Kemudian dilanjutkan kepemimpinan baru pada tahun 2020, yaitu KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Amal Fatullah Zarkasyi, dan KH. Muhammad Akrim Mariyat sampai sekarang.

Bias cahaya di langit Gontor, pendidikan Gontor menjadi salah satu kawah candradimuka generasi baru (santri baru). Karena mengikuti pendidikan di Gontor merupakan alasan membuka jendela – jendela informasi peradaban di masa kini dan mendatang. Menghadapi tantangan dengan ilmu dan pengetahuan yang luas. Dalam QS. Al – Ankabut ayat 69 Allah SWT berfirman, ‘’Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, maka niscaya akan kami berikan petunjuk menuju jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan’’

Gontor menjadikan totalitas kehidupan sebagai media pendidikan. Semua yang dilihat, didengar, dikerjakan dan dirasakan adalah sebagian dari pada pendidikan. Yang mengandalkan keteladanan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta rasa kepemilikan. Gontor adalah medan perjuangan, lahan beramal shaleh dan beribadah.

 

Paradigma Pendidikan Islam Berbasis Adab

Mencari ilmu adalah aktifitas yang mulia. Karena itu, mencari ilmu harus disandarkan kepada tujuan yang mulia pula. Maka, aktivitas keilmuan dalam Islam harus diniatkan dengan yang baik dan tujuan paling mulia. Allah SWT berfiman, “Allah Swt akan meninggikan orang orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Swt Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dalam hadist, mencari ilmu juga mendapatkan tempat yang mulia; “Barang siapa yang mencari ilmu maka ia di jalan Allah Swt sampai ia pulang.”

Bagi santri pelajar Pondok Modern Darussalam Gontor, belajar adalah infestasi ibadah agung dan memohon keridhaan Allah Swt. Mereka meyakini bahwa sedang berada pada medan jihad fi sabilillah, langkah kaki yang mereka ayunkan kesegala tempat di dalam pondok merupakan langkah-langkah mendekatkan diri menuju pintu surga.

Menuntut ilmu adalah Jihad, mengulang-ulang pelajaran adalah Tasbih, mengajarkannya kepada orang lain adalah Shadaqah, mengamalkannya adalah Amal shalih dan ibadah kepada Allah Swt.

 

ليس اليتيم الذي قد مات والده بل اليتيم يتيم العلم والأدب

Artinya: “Yatim itu bukan yang telah meninggal orang tuanya, tetapi Yatim sebenarnya itu adalah Yatim Ilmu dan Budi Pekertinya.

Kalimat mutiara diatas menjelaskan pendidikan merupakan aspek penting dalam perkembangan manusia di muka bumi. Ketika seseorang mendapatkan ilmu baru dalam belajarnya, maka ia merasa ilmu yang dimilikinya sudah cukup dan tidak perlu mempelajari adab. Tetapi kenyataannya itu hanya sebagai fiktif belaka.

Adapun pendapat Imam Ghazali sejalan dengan sabda Nabi Saw yang berbunyi; “Barangsiapa yang ingn hidup di dunia dengan baik hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang ingin meraih kebahagiaan di akhirat hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang ingin meraih keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia berilmu.” (HR. Ahmad)

Pondok Modern Darusslaam Gontor telah memberikan kontribusi dalam integrasi adab dan ilmu. Sebagaimana implikasi tersebut mengarahkan pada pendidikan didalam dan luar kelas.

Pada awalnya, padangan orang tua ingin memasukkan anaknya agar terhindar dari pergaulan bebas dizaman sekarang. setiap detik waktunya adalah pendidikan, 24 jam didalam asrama bernaungkan dengan ibadah tholabul ‘ilmi. Tertanamkan pada diri seorang santri “Sebesar keinsyafanmu sebesar itulah keuntunganmu.”

Dalam indikasi adab sebelum ilmu merupakan aplikasi yang telah diterapkan para ulama klasik dahulu. Mereka lebih menghargai seorang guru (beradab) ketimbang menghargai sebuah ilmu.

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu”.

Menjalin hubungan antara keduanya antara adab dan ilmu, sangat erat kaitannya dalam hal nilai-nlai pendidikan Islam. Syaikh Sholeh Al’Ushoimi berkata; ‘’Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.’’

Cara pembelajaran yang menarik, inovatif dan kreatif akan sangat efektif jika dibentuk dalam pembelajaran adab. Perlu diperhatikan bahwa dalam pembelajaran atau pembentukan adab yang baik pada diri seorang murid, pentingnya pada setiap program mempunyai tujuan yang tidak hanya untuk mencapai nilai prestasi akademik semata, melainkan nilai yang mengarahkan pada penguasaan emosional diri sendiri dan emosional orang lain. Dalam survey membuktikan bahwa banyak dari santri Gontor mempunyai prestasi yang unggul. Pada sisi lain, kesetaraan prestasi dalam akademik tidak mengimbangi pada akhlak dan perilaku yang diterapkan dalam lingkup pendidikan.

Pengembangan adab dalam pendidikan Islam, memiliki nilai-nilai keagamaan yang mendasar serta perlu ditanamkan pada diri santri. seperti, nilai keislaman, keimanan, jiwa ihsan, serta ketaqwaan. Dalam sila yang kedua ada kalimat yang berasal dari bahasa arab yaitu adil dan adab. Apabila dua kalimat dilihat dari sudut pandang ajaran agama Islam, tentunya ada pemaknaan lebih atas dua kalimat ini, bukan sekedar pemaknaan yang biasa. Masuknya kalimat – kalimat bahas Arab kedalam pancasila Indonesia dikarenakan kuatnya pengaruh peradaban Islam di Indonesia. Selayaknya kalimat tersebut memiliki makna ajaran Islam sebagaimana mestinya.

Dalam ilmu Tarbiyah, ada trinitas pendidikan untuk manusia yang mana trinitas memberikan dampak yang sangat besar bagi peserta didik. Pendidikan berpengaruh pada pembelajaran yang didapatkan oleh seorang peserta didik, diantaranya adalah keluarga (rumah), sekolah, dan lingkungan. Orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan perilaku dalam pendidikan dasar bagi anak. Karena rumah adalah sekolah pertama untuk peserta didik.

Dari Abu Darda’ r.a mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada suatu amal perbuatan pun dalam timbangan yang lebih baik daripada akhlak yang baik.”

Miliu yang saling bersinergi pada alam Pendidikan Gontor

Nasehat kyai Hasan dalam pidatonya, beliau berkata; “Seindah – indah masa lalu adalah menuntut ilmu. Seindah-indah pengalaman adalah pengalaman menuntut ilmu.”

 

Pen. Sintya Kartika Prameswari

Sumber Daftar Pustaka:

Adian Husaini, Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab, (Surabaya: INSIST,Bina Qalam, 2015) p. 99

Alvin Qodry Lazuardy, Catatan ¼ Abad, (Kediri: CV.ANM, 2020) p. 18

HR. Bukhari.

Ahmad Suharto, Menggali Mutiara Perjuangan Gontor, (Gontor: Publishing House, 2014) p. 43

 KH. Hasan Abdullah Sahal, Kehidupan Mengajariku Jilid 1, (Gontor: Darussalam Press, cet. Ke 3, 2021) p. 227

Imam Malik

Hamka, Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,cet. Ke 12, 1994) p. 61

Leave a Reply